Postingan

Cahaya di Sudut Penantian

Hening merayap perlahan, menyusup di sela jemari, menahan napas waktu. Angin malam menimang detik sunyi, rindu luruh satu per satu, seperti gerimis di kaca jendela, menyentuh ruang kosong tempat namamu berlabuh. Engkau, yang belum berwujud, telah lama menetap di langit doa— sebutir cahaya yang kusemai, menunggu fajar di dasar sukma. Datanglah, wahai jiwa kecilku, bawalah hangat yang paling murni pada pelukan yang telah lama menanti. Aku percaya fajar akan tiba, meski malam masih setia memeluk sepi. Di jantung Jakarta yang sunyi, di sela tumpukan harap, di pojok meja yang letih, aku setia mengeja kepulanganmu, sinarmu yang menenangkan. Dan meski ufuk masih bergradasi jingga, aku menyalakan fajar di sudut sukma, menyulam doa, menunggu cahaya kecilku, hingga suatu hari, rindu ini bertemu pelukan yang seharusnya. —Januari, 2026

Rekap 2025 & Menyambut 2026

2025 mengajarkanku satu hal penting: bahwa hidup tidak selalu perlu dimenangkan, cukup dipahami. Tahun ini tidak berjalan lurus. Ada banyak belokan, jeda, dan momen sunyi yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kalimat sederhana. Namun justru di situlah aku belajar—bahwa kedewasaan bukan soal kerasnya langkah, melainkan ketenangan saat memilih tetap berdiri. Aku belajar bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Tidak semua ketidakadilan perlu dilawan dengan suara. Dan tidak semua luka membutuhkan penjelasan. Sepanjang 2025, aku berlatih untuk hadir sepenuhnya. Hadir dalam peran yang kupilih. Hadir dalam keputusan yang mungkin tidak selalu populer. Hadir dalam hidup yang nyata—dengan tanggung jawab, batasan, dan kesadaran diri. Aku belajar tentang keluarga, bukan sebagai konsep ideal, tapi sebagai proses yang terus diperjuangkan. Tentang relasi, bukan sebagai tuntutan saling memiliki, tapi sebagai ruang untuk saling bertumbuh. Tentang cinta, bukan sebagai pengorbanan tanpa arah, melainkan ...

Semua Sudah Tertulis, Menawarlah Lewat Doa Believe in (QS. Ghafir: 60)

Ada satu ayat yang begitu menenangkan hati:  “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini sederhana, tapi maknanya begitu dalam. Allah sendiri yang mengundang kita untuk datang, memohon, dan menawar lewat doa. Sebab sejatinya, segala sesuatu dalam hidup memang sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Namun, doa adalah bentuk ikhtiar yang bisa menghadirkan perubahan. Doa bukan sekadar permintaan. Ia adalah pengakuan tulus bahwa kita lemah tanpa-Nya. Saat berdoa, kita sedang menyadari ada Dzat Yang Maha Kuasa, yang selalu mendengar—meski lidah tak mengucap, meski hati hanya berbisik. Sering kali kita merasa jalan sudah buntu. Harapan tampak samar, pintu seakan tertutup rapat. Di situlah doa bekerja. Ia menjadi ketukan lembut di pintu langit, menghubungkan hati yang rapuh dengan Rabb yang tak pernah menolak hamba-Nya. Dan benar, jawaban doa tidak selalu datang seketika. Kadang ia ditunda, diganti dengan sesuatu yang lebih baik, a...

Tidak Ada yang Bisa Membuatmu Rendah Diri Tanpa Persetujuanmu

Dalam hidup, kita semua pernah berada di titik penantian—menunggu kabar baik, sebuah pencapaian, atau harapan yang masih kita genggam erat. Perjalanan itu sering terasa panjang: penuh doa, harapan, bahkan air mata. Tekanan pun datang, bukan hanya dari dalam diri, tetapi juga dari luar—pertanyaan yang berulang, komentar yang menyentil, hingga perbandingan yang tanpa sadar membuat hati terasa kerdil. Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: tidak ada yang bisa membuatmu rendah diri tanpa persetujuanmu. Orang lain boleh berbicara, bertanya, bahkan meremehkan. Tetapi hanya dirimu yang berhak menentukan seberapa jauh kata-kata itu memengaruhi hati. Jangan biarkan standar orang lain mengukur nilaimu. Keberhargaanmu tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya sebuah kabar bahagia datang, bukan pula oleh seberapa segera mimpimu terwujud. Kamu tetap utuh, tetap berharga, dan selalu layak dicintai apa adanya. Perjalanan ini mungkin terasa berat, tetapi itu bukan alasan untuk merasa lebih...

Pewaris Atau Perintis?

Tulisan ini lahir dari ruang dengar dan diam, setelah menyimak sebuah podcast tentang pewaris dan perintis—sebuah refleksi tentang bentuk cinta yang tak selalu memiliki peta, namun tetap layak dijalani. --- Beberapa waktu lalu, sebuah podcast membuka ruang renung dalam benak saya. Topiknya sederhana: tentang pewaris dan perintis. Namun, dalam kesederhanaannya, ia mengetuk sisi kehidupan yang jarang dibicarakan— tentang menjadi pasangan hidup tanpa anak sebagai pengikat arah. Di banyak rumah, kehadiran anak adalah benang merah yang menyatukan dua insan dalam satu sistem kerja sama. Tanpa perlu banyak diskusi, hadir kewajiban yang mengikat, peran yang otomatis terbentuk, dan tujuan yang secara alami terarah. Suami menjadi ayah. Istri menjadi ibu. Dan cinta pun menemukan jalannya di sela-sela rutinitas membesarkan masa depan. Namun, bagaimana jika rumah itu sunyi? Tanpa tangis bayi, tanpa jadwal antar-jemput sekolah, tanpa daftar kebutuhan yang menuntut dipenuhi? Yang tersisa hanyalah dua...

Pelajaran dari Batu dan Air

Di hadapan alam, aku seperti murid kecil yang baru belajar membaca kesabaran. Batu itu tidak pernah mengeluh. Setiap hari air jatuh menampar punggungnya, tapi ia tetap diam. Bukan karena tak merasa, tapi karena ia tahu: kekuatan sejati adalah bertahan tanpa harus membalas. Air mengalir tanpa menoleh ke belakang. Ia jatuh, pecah, lalu pergi— seolah mengajarkan bahwa tidak semua yang jatuh harus disesali, karena mungkin, di tempat yang jauh, ia akan menjadi jernih dan berguna untuk kehidupan lain. Angin lewat begitu saja, menyapu daun-daun yang gemetar ketakutan. Tapi pohon tetap berdiri, tak meninggalkan akarnya. Diam-diam, ia berbisik pada tanah: "Terima saja semua yang datang, kita akan tetap tumbuh." Dan di tengah semua itu, aku duduk, mencoba belajar menjadi seperti mereka— menjadi batu yang tegar, air yang rela, dan pohon yang setia. Mungkin tidak hari ini, tidak besok, tapi aku yakin perlahan aku akan mengerti caranya.

Bukit yang Menyimpan Rahasia

Ada tempat-tempat tertentu di dunia ini yang terasa seperti ruang terapi gratis. Tidak ada sofa empuk, tidak ada konselor bersertifikat—hanya hamparan alam yang diam, menerima, dan membiarkanmu membuang beban sedikit demi sedikit. Bagi kami, malam itu, tempat itu bernama Bukit Hambalang. Bukit ini semalam terasa seperti telinga tua yang sabar. Kami datang dengan hati yang penuh racun: keluhan yang selama ini hanya berkutat di kepala, marah yang tak pernah sempat benar-benar dikeluarkan, juga lelah yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Dan bukit hanya diam. Tidak menyela. Tidak menghakimi. Ia berdiri di sana, menunggu, seolah sudah terlalu sering menjadi tempat pelarian manusia yang kehabisan ruang untuk menangis. --- Makan Malam yang Sebenarnya Bukan Makan Malam Kami duduk di kursi kayu yang sedikit goyah, menunggu makanan datang dari warung kecil di tepi bukit. Angin malam datang pelan-pelan, meniup rambut, membawa aroma tanah basah yang samar. Dingin, tapi bukan dingin yang mengusir—di...