Cahaya di Sudut Penantian
Hening merayap perlahan, menyusup di sela jemari, menahan napas waktu. Angin malam menimang detik sunyi, rindu luruh satu per satu, seperti gerimis di kaca jendela, menyentuh ruang kosong tempat namamu berlabuh. Engkau, yang belum berwujud, telah lama menetap di langit doa— sebutir cahaya yang kusemai, menunggu fajar di dasar sukma. Datanglah, wahai jiwa kecilku, bawalah hangat yang paling murni pada pelukan yang telah lama menanti. Aku percaya fajar akan tiba, meski malam masih setia memeluk sepi. Di jantung Jakarta yang sunyi, di sela tumpukan harap, di pojok meja yang letih, aku setia mengeja kepulanganmu, sinarmu yang menenangkan. Dan meski ufuk masih bergradasi jingga, aku menyalakan fajar di sudut sukma, menyulam doa, menunggu cahaya kecilku, hingga suatu hari, rindu ini bertemu pelukan yang seharusnya. —Januari, 2026