Tidak Ada yang Bisa Membuatmu Rendah Diri Tanpa Persetujuanmu

Dalam hidup, kita semua pernah berada di titik penantian—menunggu kabar baik, sebuah pencapaian, atau harapan yang masih kita genggam erat. Perjalanan itu sering terasa panjang: penuh doa, harapan, bahkan air mata. Tekanan pun datang, bukan hanya dari dalam diri, tetapi juga dari luar—pertanyaan yang berulang, komentar yang menyentil, hingga perbandingan yang tanpa sadar membuat hati terasa kerdil.

Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: tidak ada yang bisa membuatmu rendah diri tanpa persetujuanmu.

Orang lain boleh berbicara, bertanya, bahkan meremehkan. Tetapi hanya dirimu yang berhak menentukan seberapa jauh kata-kata itu memengaruhi hati. Jangan biarkan standar orang lain mengukur nilaimu. Keberhargaanmu tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya sebuah kabar bahagia datang, bukan pula oleh seberapa segera mimpimu terwujud.

Kamu tetap utuh, tetap berharga, dan selalu layak dicintai apa adanya. Perjalanan ini mungkin terasa berat, tetapi itu bukan alasan untuk merasa lebih rendah dari siapa pun. Setiap langkah kecil yang kamu ambil, setiap doa dan usaha yang kamu lakukan, adalah bukti nyata kekuatan dan keberanianmu.

Ingatlah, setiap penantian adalah perjalanan yang mulia—penuh cinta, kesabaran, dan keteguhan hati. Tidak ada ukuran cepat atau lambat dalam menerima anugerah, karena setiap orang berjalan di jalannya masing-masing.

Dan di tengah semua itu, jangan pernah biarkan dirimu merasa kurang. Kamu tetap berarti, tetap berharga, dan tetap layak dicintai. Yakinlah, Allah tidak pernah terlambat dalam menjawab doa. Setiap tetes sabar dan setiap bisikan doa yang kau panjatkan sedang ditata oleh-Nya hingga tiba saat terbaik yang penuh berkah.

Doakan dengan penuh harap sebagaimana doa Nabi Zakaria:

> رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Rabbi hab lī min ladunka dhurriyyatan ṭayyibah, innaka samī‘ud du‘ā’.


(QS. Āli ‘Imrān: 38)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari 2 — Satu Tempat yang Membekas di Hati

Halo, Ini Aku

Hari 1 - Mengapa aku menulis