🕊️ Selamat Jalan, Murai Terbaik Kami
Hari ini rumah kami lebih sunyi dari biasanya.
Tak ada lagi suara kicauan yang memenuhi pagi,
tak ada gerakan lincah di balik kerodong yang biasa menggoda rasa bangga kami.
Satu murai milik kami — yang paling unggul, paling kami banggakan —
telah pergi.
Tiba-tiba. Tanpa aba-aba.
Semalam masih sehat, masih hidup,
pagi ini kami temukan tubuhnya telah tak utuh.
Dan hati kami ikut hancur bersama kepergiannya.
Murai ini bukan sekadar burung.
Ia adalah hasil kerja keras.
Hasil ternakan yang kami rawat penuh cinta.
Dia menjadi lambang harapan di tengah hidup kami yang kadang penuh luka dan sepi.
Dia mewakili semangat kami yang ingin bangkit,
dan menjadi pengalihan indah dari semua beban yang kami pikul bersama.
Kami tidak tahu pasti penyebab kepergiannya.
Tidak ada tanda luka. Tidak ada suara sebelumnya.
Mungkin tubuhnya menyerah pada hal-hal yang tak terlihat oleh mata —
tekanan, suhu, atau takdir yang datang terlalu cepat.
Tapi yang kami tahu pasti adalah ini:
Dia sudah memberi segalanya.
Suaranya pernah menyemangati kami.
Geraknya pernah membuat kami tertawa.
Dan kehadirannya... membuat kami merasa rumah ini hidup.
Terima kasih, murai kecil kami.
Terima kasih telah hadir.
Terima kasih sudah jadi yang terbaik, bahkan sampai akhir.
Kami tidak akan menggantikanmu.
Tapi kami akan terus merawat yang tersisa,
dengan cinta yang sama — dan sedikit air mata hari ini.
Kamu mungkin seekor burung bagi dunia,
tapi bagi kami, kamu adalah satu cerita yang tidak akan terlupa.
Selamat jalan…
Kicauanmu tetap hidup di hati kami.
—
Ditulis dengan hati yang patah,
oleh kami yang mencintaimu,
sepasang manusia di sudut rumah kecil ini.
Komentar
Posting Komentar