Ditulis dari sela waktu kosong di kantor, di tengah bunyi hujan dan segelas es Good Day cappuccino. Untuk semua perempuan yang menjalani peran tanpa gelar, tapi tetap tegar. “ Ada yang tidak melahirkan, tapi merawat seperti dunia ada di tangannya. Ada yang tak disebut ibu, tapi jadi alas untuk pulang.” --- Jam sudah lewat pukul empat sore. Kantor mulai lengang. Beberapa rekan memilih melanjutkan kerja dari rumah, sebagian sudah pulang sejak makan siang. Aku tetap duduk di meja—bukan karena pekerjaan, tapi karena hatiku belum siap pulang. Di luar, hujan turun perlahan. Rintiknya jatuh di jendela seperti mengetuk, seolah ingin mengajakku bicara. Komputer di depanku masih menyala, namun layar kosong. Aku membuka dokumen baru. Jari-jari ragu mulai mengetik. Tapi ada sesuatu yang perlu dikeluarkan hari ini. Karena aku sedang lelah. Tepatnya, lelah diam-diam. --- Kalau Aku Bukan Ibu… Kalau aku bukan ibu, kenapa aku yang selalu menyiapkan pagi dan memastikan malam tetap tenang? Kalau aku buka...
Komentar
Posting Komentar