Hari 25 – Menulis, dan Menemukan Jalan Pulang
Aku tidak ingat persis kapan semuanya mulai berubah. Yang jelas, awalnya aku ikut tantangan menulis ini hanya karena satu hal: aku butuh ruang. Tempat sederhana untuk meluapkan rasa yang selama ini kupendam sendiri. Aku butuh cara untuk bernapas di antara hari-hari yang terasa terlalu penuh, tapi juga terlalu sunyi.
Hari-hari pertama terasa canggung. Ada perasaan malu—“curhat kok diposting?”—dan sedikit ragu, takut dianggap berlebihan. Tapi lama-lama, setiap kali kutekan tombol kirim, rasanya justru makin ringan. Bukan karena semua masalah mendadak lenyap, tapi karena aku mulai jujur pada diriku sendiri.
Menulis perlahan menjadi cara untuk memetakan isi hati. Aku belajar mengenali emosi tanpa harus membuka luka terlalu lebar. Belajar bercerita tanpa harus menjelaskan segalanya. Yang mengejutkan, ternyata aku tidak sendirian. Ada banyak orang yang juga sedang mencari cara untuk pulih. Beberapa di antara mereka meninggalkan pesan: “Terima kasih ya. Aku merasa ditemani lewat tulisanmu.”
Itu hal yang tidak pernah aku duga. Ternyata, menyentuh seseorang tak selalu butuh pelukan atau nasihat panjang. Kadang, cukup dengan kalimat yang jujur—yang lahir dari tempat yang sama-sama rapuh.
Tanpa kusadari, menulis mengubah caraku melihat dan merespons dunia. Aku jadi lebih tenang menghadapi hal-hal yang sebelumnya mudah memicuku. Lebih sadar saat kecewa, marah, atau sedih datang menghampiri. Seolah ada bagian dari diriku yang dulu sering terabaikan—kini pelan-pelan diberi ruang, dan dirawat dengan lebih penuh kasih.
Mungkin memang benar, ada doa-doa diam yang mengalir lewat setiap tulisan. Dari hati-hati baik yang pernah merasa sendirian juga. Karena apa yang kurasakan hari ini—rasa ringan, lega, dan damai—rasanya bukan semata hasil usahaku sendiri.
Terkadang, keajaiban datang dari hal-hal kecil yang kita lakukan dengan sepenuh hati.
Tanpa pamrih. Tanpa tuntutan. Hanya niat untuk sembuh, dan terus berjalan.
Hari ke-25.
Menulis tak lagi terasa seperti pelarian.
Kini, ia lebih seperti rumah. Tempat aku pulang—ke diriku sendiri.
Dan jika kamu belum mulai menulis, mungkin sekarang saat yang tepat untuk mencoba.
Tidak perlu indah. Tidak harus panjang. Cukup jujur saja.
Karena bisa jadi, lewat tulisan-tulisan kecil itu, kamu juga akan menemukan jalan pulang ke dalam dirimu sendiri.
Komentar
Posting Komentar