Hari 15 - Bertumbuh

Tumbuh ternyata bukan soal seberapa cepat aku bisa bangkit, tapi seberapa tulus aku mau berhenti sejenak dan melihat ke dalam. Menyapa diri yang letih, memeluk kecewa, dan menerima harapan yang tak selalu utuh.

Ada masa di mana aku merasa tertinggal. Aku pernah begitu ingin kuat, begitu ingin “baik-baik saja” hanya agar dunia tidak melihat celah rapuhku. Tapi semakin aku menolak rasa sakit, semakin aku kehilangan diriku sendiri. Ternyata, menjadi kuat bukan berarti menolak luka, tapi berani menengoknya dan berkata, “Aku tahu kamu ada, tapi aku tetap berjalan.”

Aku pernah menjadi asing di hidupku sendiri. Menjadi pemeran tambahan dalam cerita yang kujalani setiap hari. Tapi waktu—dan rasa sepi yang sunyi—mengajarkan bahwa perjalanan ini milikku, dan aku punya hak untuk hadir sepenuhnya di dalamnya.

Pelan-pelan, aku belajar menghargai proses. Kadang capek, kadang bingung, tapi ternyata itu juga bagian dari tumbuh. Tidak semua hari harus cerah. Tidak semua langkah harus pasti. Tapi setiap napas yang kuambil di tengah badai, setiap keputusan untuk tidak menyerah—itulah tumbuh. Aku belajar memberi ruang pada diriku sendiri: untuk gagal, untuk istirahat, untuk bangkit kembali dengan cara yang lebih lembut.

Sekarang aku tahu, tumbuh tidak selalu berarti menjadi lebih baik setiap hari. Terkadang, tumbuh adalah diam sebentar, menyadari bahwa aku masih di sini, dan itu saja sudah cukup. Aku tidak lagi terobsesi menjadi sempurna. Aku memilih untuk hadir—apa adanya. Dengan rasa syukur yang perlahan, dengan hati yang lebih tenang, dan dengan mata yang mulai bisa melihat betapa berartinya setiap langkah kecil yang pernah kulalui.

Hari ini, aku ingin berterima kasih. Pada diriku sendiri—yang sudah berjalan sejauh ini. Pada rasa sakit yang telah mengajarkan banyak hal. Pada perjalanan yang tidak selalu mudah, tapi selalu memberi makna.

Karena ternyata, bagian paling indah dari tumbuh… adalah saat kita mulai belajar menghargai perjalanan itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari 2 — Satu Tempat yang Membekas di Hati

Halo, Ini Aku

Hari 1 - Mengapa aku menulis