Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Cahaya di Sudut Penantian

Hening merayap perlahan, menyusup di sela jemari, menahan napas waktu. Angin malam menimang detik sunyi, rindu luruh satu per satu, seperti gerimis di kaca jendela, menyentuh ruang kosong tempat namamu berlabuh. Engkau, yang belum berwujud, telah lama menetap di langit doa— sebutir cahaya yang kusemai, menunggu fajar di dasar sukma. Datanglah, wahai jiwa kecilku, bawalah hangat yang paling murni pada pelukan yang telah lama menanti. Aku percaya fajar akan tiba, meski malam masih setia memeluk sepi. Di jantung Jakarta yang sunyi, di sela tumpukan harap, di pojok meja yang letih, aku setia mengeja kepulanganmu, sinarmu yang menenangkan. Dan meski ufuk masih bergradasi jingga, aku menyalakan fajar di sudut sukma, menyulam doa, menunggu cahaya kecilku, hingga suatu hari, rindu ini bertemu pelukan yang seharusnya. —Januari, 2026

Rekap 2025 & Menyambut 2026

2025 mengajarkanku satu hal penting: bahwa hidup tidak selalu perlu dimenangkan, cukup dipahami. Tahun ini tidak berjalan lurus. Ada banyak belokan, jeda, dan momen sunyi yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kalimat sederhana. Namun justru di situlah aku belajar—bahwa kedewasaan bukan soal kerasnya langkah, melainkan ketenangan saat memilih tetap berdiri. Aku belajar bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Tidak semua ketidakadilan perlu dilawan dengan suara. Dan tidak semua luka membutuhkan penjelasan. Sepanjang 2025, aku berlatih untuk hadir sepenuhnya. Hadir dalam peran yang kupilih. Hadir dalam keputusan yang mungkin tidak selalu populer. Hadir dalam hidup yang nyata—dengan tanggung jawab, batasan, dan kesadaran diri. Aku belajar tentang keluarga, bukan sebagai konsep ideal, tapi sebagai proses yang terus diperjuangkan. Tentang relasi, bukan sebagai tuntutan saling memiliki, tapi sebagai ruang untuk saling bertumbuh. Tentang cinta, bukan sebagai pengorbanan tanpa arah, melainkan ...